01 September, 2006

Terapi Penghilang Bara Duka



Musibah, apapun bentuknya, selalu menggoreskan duka. Tangisan, keluh kesah bahkan umpatan dan kemarahan seolah-olah menjadi hal yang lumrah dilakukan sebagai ungkapan penolakan terhadap keadaan yang tak diinginkan ini. Tapi, apakah hal tersebut dibenarkan dalam tuntunan Islam yang Mulia ini? Jawabannya Tidak. Seorang Muslim ketika ditimpa musibah haruslah mengendalikan hati dan jiwanya agar tidak melakukan hal-hal yang merugikan baik di dunia maupun di akhirat. Namun untuk mewujudkan itu semua tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, sehingga diperlukan latihan dan terapi untuk mencapai itu semua.
Salah satu terapi untuk mengatasi perasaan duka adalah melihat musibah yang ditimpakan kepadanya, lantas menyadari bahwa Allah Ta’ala masih menyisakan pada dirinya nikmat-nikmat yang setara dengan musibah itu atau lebih utama lagi. Bahkan jika seseorang bersabar dan ridho, Allah masih akan memberikan kepadanya nikmat yang berlipat ganda dan jauh lebih besar dibandingkan kenikmatan yang luput pada musibah itu.

Hendaklah seseorang menyadari bahwa keluhan tidak akan menghilangkan kedukaan, melainkan justru menambah dan melipatgandakan kepedihan yang dialami. Keluhan juga akan mengakibatkan musuhnya bergembira, kawannya berduka, Robbnya murka, setannya tertawa, dirinya lemah dan pahalanya sirna. Sebaliknya jika seseorang bersabar seraya mengharap pahala, maka akan menjadikan setannya kurus kering, Robbnya ridho, kawannya bergembira, musuhnya berduka dan akan meringankan saudara-saudaranya serta menghibur mereka sebelum mereka menghiburnya. Inilah ketabahan dan kesempunaan yang agung, tidak ada pipi ditampar, baju dikoyak, doa celaka dan binasa maupun kebencian kepada takdir.

Betapa indahnya kesabaran apalagi ketika ditimpa musibah. InsyaAllah seseorang akan mendapatkan pahala atas buah kesabarannya tersebut. Sehingga seseorang hendaklah menyadari bahwa terluputnya pahala kesabaran dan kepasrahan kita kepada Allah Ta’ala berupa keadaan yang senantiasa diliputi keberkatan, kasih sayang, dan petunjuk yang diberikan karena kesabaran dan istirja’, pada hakekatnya lebih menyedihkan daripada musibah. Cukuplah sebagai suatu kesenangan baginya baitulhamd yang akan dibangun untuknya di syurga karena pujian, kesabaran dan istirja’ yang dilakukannya.

Kesabaran Yang Tidak Terpuji

Jika kegundahan dan keluh kesah telah mencapai puncaknya, maka keadaan terakhirnya adalah bersabar secara terpaksa dan kesabaran semacam ini sama sekali tidak terpuji dan tidak diberi pahala. Seorang ahlulhikmah berkata: “Orang yang cerdas, sejak hari pertama musibah yang menimpanya, melakukan apa yang dilakukan oleh orang bodoh beberapa hari kemudian. Siapa yang tidak bisa bersabar dengan kesabaran orang-orang mulia, akan terpaksa melupakan dukanya seperti binatang”. Disebutkan dalam Ash-Shohih, sebuah hadits marfu’: “Kesabaran sejati adalah yang dilakukan saat benturan pertama” (HR: Bukhori, III/138 dan Muslim [926] dalam Al-Janaiz, Bab “Kesabaran Menghadapi Musibah adalah yang Dilakukan Ketika Terjadi Benturan Pertama”, diriwayatkan melalui Anas bin Malik)

Musibah dan Kenikmatan Sejati

Perhatikan, manakah diantara dua musibah ini yang lebih berat? Musibah di dunia ataukah musibah di akhirat? Al-Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits marfu’: “Orang-orang pada hari kiamat berangan-angan andaikata dulu kulit mereka digergaji didunia, karena (besarnya) pahala orang-orang yang terkena bala’, yang mereka lihat” (HR: Tirmidzi [2404] dalam Az-Zuhd)

Seorang pendahulu umat ini berkata, “Andaikata bukan karena musibah-musibah yang menimpa dunia, niscaya kita datang pada hari kiamat sebagai orang-orang yang bangkrut”

Manakah yang lebih besar dan lebih abadi, yaitu antara kenikmatan apa yang hilang darinya dengan kenikmatan bergembira dengan pahala yang dikaruniakan oleh Allah Ta’ala kepadanya? Jika seseorang telah memahami mana yang lebih baik yaitu kenikmatan bergembira dengan pahala, lantas mencintai yang lebih baik itu, maka hendaklah memuji Allah Ta’ala atas taufik-Nya. Tetapi jika seseorang masih saja mencintai yang lebih rendah kebaikannya dari segala segi, maka hendaklah menyadari bahwa musibah yang telah menimpa akal, hati, dan agamanya itu lebih berat daripada musibah yang menimpanya dalam hal keduniaan.

Hendaklah seseorang menyadari bahwa ujian yang ditimpakan kepadanya oleh Ahkamul Hakimin (Yang Maha Bijaksana) dan Arhamur Rohimin (Yang Maha Penyayang), serta Allah tidak mengirimkan musibah kepada seseorang untuk membinasakan atau menghancurkannya, melainkan untuk menguji kesabarannya, keridoaannya, keimanannya, untuk mendengar permohonan dan do’a khusyuknya, serta untuk melihatnya bersimpuh di pintu-Nya, memohon perlindungan kepada-Nya, dengan hati yang remuk dihadapan-Nya, seraya menceritakan kisah-kisah yang dikeluhkan hamba kepada-Nya. Wallahu ‘Alam.

(Rujukan: ‘Ilaaju Harril Mushiybati wa Huznihaa, karya Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah)

sumber
media islam.tk

2 comments:

Anonymous said...

Yah.. artikel yang sangat pas untuk ana. Yang sedang KEHILANGAN BLOG !! :(( Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Vendy said...

betul sekali. duka dan suka adalah satu. sayangnya, kita lebih cenderung memilih.