27 September, 2006

Peka Jiwa dengan Menangis

Penulis : Naufan Dzaky


Manusia jika telah diliputi nafsu, maka penglihatan, pendengaran, akal, dan hatinya tidak lagi berfungsi. Karena ia menjadi pengikut syahwat yang banyak melakukan dosa. Jalan pertama syahwat dari mata yang sulit ditundukkan. "Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas." (QS. Al-Baqarah : 212).

Syahwat ini tidak hanya kecenderungan hati pada lawan jenis, tapi juga pada yang dipunyai orang lain. Mengenai hal ini, Umar RA berkata, "Janganlah kamu berlebihan dalam makan dan minum (kekenyangan), karena yang demikian itu dapat merusak badan, menimbulkan penyakit, dan menjadikan kamu malas melaksanakan shalat. Makan dan minumlah secukupnya karena yang demikian itu dapat memperbaiki tubuh dan menjauhkan diri dari perbuatan israf. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang pandai yang terlalu gemuk. Seseorang itu tidak akan binasa kecuali apabila syahwatnya telah mengalahkan agamanya." (Riwayat Alaudin dalam kitab Kanzul Ummat).

Suatu hal yang harus menjadi perhatian kita, bahwa sebagian kaum muslimin meremehkan dosa. Sehingga tidak segan melakukan kemaksiatan dengan segala jenis dosa, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Az-Zahid, Bilal bin Sa'ad RA berkata, "Janganlah kamu melihat kepada kecilnya kesalahan, tetapi lihatlah kepada Mahabesarnya yang kamu tentang."

Meremehkan dosa menjadikan hati menjadi kotor dan keras sehingga menutupi hidayah dan petunjuk Allah. Sebagaimana Abu Hurairah RA meriwayatkan dari Rasulullah SAW yang bersabda, "Sesungguhnya orang mukmin apabila berbuat dosa, terdapat noda hitam di hatinya. Bila ia bertaubat, meninggalkannya dan istighfar, maka hatinya menjadi cemerlang kembali. Tetapi bila ia menambah dosanya, maka bertambah pula noda hitam tersebut. Itulah "kotoran" yang disebutkan Allah SWT dalam kitabNya, Sesekali tidak! Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka."

Dikarenakan hatinya "ditutup", maka ia tidak lagi peka terhadap keimanan. Seperti halnya menangis. Kita mendapati para sahabat bisa menangis dalam setiap shalatnya. "Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu." (QS. Al-Israa : 109).

Inilah yang menjadikan bukti adanya kenikmatan jika menangis dalam shalat fardhu atau shalat sunnat. Biasanya kita hanya bisa menangis jika ditimpa musibah atau ketika diliputi kebingungan seperti memutuskan sekolah, kerja, dan memilih siapa calon pasangan hidup kita. Sebuah kepekaan hati yang berbentuk tangisan ketika shalat bisa menjadi ukuran sehat tidaknya keimanan seseorang. Tidak hanya dalam shalat tapi juga ketika mendengar atau membaca Al-Qur'an.

Salah satu cara untuk menyentuh kembali keimanan kita yaitu dengan taubat. Karena taubat yang sebenar-benarnya akan melunturkan karat dosa. Ad-Darimi dari Umran bin Husain meriwayatkan kisah seorang wanita bernama Juhainah yang mendatangi Rasulullah SAW dalam keadaan hamil akibat berzina. "Wahai Rasulullah, aku telah melakukan kesalahan, maka jatuhkan hukuman kepadaku." Rasulullah SAW kemudian memanggil wali wanita itu dan berpesan, "Temuilah dia dan perlakukanlah dengan baik. Jika ia telah melahirkan anaknya, bawalah ia ke sini." Kemudian wanita itu menjalankan perintah Rasulullah SAW sampai tibanya hukuman rajam. Usai dirajam Rasulullah SAW menshalatkannya. Namun tindakan itu diprotes oleh Umar RA, "Ya Rasulullah, mengapa engkau melakukan shalat atas wanita itu, padahal ia telah melakukan zina?" Rasulullah SAW menjawab, "Wanita itu telah bertobat dengan sempurna, jika ia dibagi-bagikan pahala taubatnya kepada seluruh rakyat Madinah, maka akan mencukupinya; maka apakah engkau menemukan tindakan yang lebih baik daripada tindakan menyerahkan diri kepada Allah SWT?"

Selain dengan bertaubat, kita pun harus mempelajari Islam berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Karena memang dengan pengajaran dari kedua sumber tersebut hati menjadi peka terhadap ukhrawi dan membimbing kepada jalan yang benar. "Dia lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan al-kitab dan al-hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Jumuah : 2).

Memang ada kalanya kita menjadi lalai kembali setelah menyatakan taubat. Karenanya kita perlu merancang dan melaksanakan agenda harian seperti shalat berjama'ah dan tepat waktu. Membiasakan berinfaq, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Berusaha menghidupkan malam dengan shalat tahajud, shaum, berdo'a, dan berdzikir serta melakukan ibadah-ibadah lainnya.

Ada satu do'a pendek yang bisa kita hafalkan dalam Al-Quran surat Ali-Imran ayat 16, "Rabbana innana amanna faghfirlana dzunubana waqina 'adza bannar — Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka." Dan mudah-mudahan apa yang kita usahakan dapat meraih kembali keimanan dan kepekaan jiwa. "Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalaasan dari apa yang mereka kerjakan." (QS. At-Thaubah : 82).

Wallahu a'lam.
sumber :
kotasantri.com

0 comments:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More