16 December, 2006

Jadilah Orang yang Ikhlas

Penulis : H. Mulyadi Al-Fadhil, S.Sos.I.

Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya ibadah. Ikhlas menjadi pilar kekuatan beramal kaum mukminin. Tanpa kekuatan ikhlas, mustahil kaum muslimin dapat bertahan dalam perjuangannya menegakkan kalimat tauhid.

Tokoh mujahid Islam yang terkenal, Asy-Syahid Imam Hasan Al-Banna, mengatakan, "Ikhlas itu kunci keberhasilan. " Menurutnya, para salafushaleh yang mulia tidak memperoleh kemenangan kecuali dengan tiga hal, yaitu kekuatan iman, kebersihan hati, dan keikhlasan.

"Jika engkau telah memiliki tiga hal itu, maka Allah akan memberi petunjuk dan pertolongan, dan Allah akan memberimu keberhasilan. " Tapi, masih menurut Imam Hasan Al Banna, "Jika hatinya sakit, cita-citanya lumpuh, dan diselimuti cinta dunia (tidak ikhlas), maka keluarlah dari barisanmu! Karena orang seperti itulah yang akan menghalangimu dari rahmat dan taufiq Allah SWT." (al-Waqa'iq, Muhamnad Ahmad Rasyid).

Uraian tokoh pembaharu di atas mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga keikhlasan dalam setiap amal. Mari kita perhatikan ungkapan sahabat Ali bin Thalib RA, ada empat kebaikan yang sulit untuk dilakukan. Yaitu, memaafkan ketika marah, berderma ketika sulit, menjaga diri (iffah) dari dosa ketika sendirian, dan menyampaikan kebenaran kepada orang yang ditakuti.

Lebih jauh, mari kita renungkan ungkapan di atas, ketika kita berbuat salah dan kita meminta maaf atas kesalahan kita, itu sudah semestinya. Atau, orang berbuat salah dan minta maaf lalu kita maafkan, itu pun hal yang wajar. Tetapi, apabila orang lain yang berbuat salah dan kita yang meminta maaf dan memaafkannya, walaupun ia tidak meminta maaf, ini luar biasa. Tidak mudah bagi kita melakukannya. Ada pergulatan dan perasaan yang begitu berat.

Demikian pula ketika kita bersedekah (berderma). Saat kita memiliki uang atau sedang dalam keadaan lapang bahkan berlimpah, sangat wajar kalau kita melakukannya. Tetapi, bagaimana ketika kita sedang pailit, uang pas-pasan, harta terbatas, bahkan kita pun sangat butuh dengan uang yang ada? Mungkin hanya sebagian kecil saja yang masih sanggup berderma. Tetapi, jika kita mampu untuk berbagi dalam keadaan sempit, tentu menunjukkan keikhlasan yang tinggi.

Keikhlasan tidak nampak secara fisik. Ikhlas atau tidaknya seseorang dalam suatu amal shaleh, hanya dapat diketahui oleh dirinya sendiri. Hanya Allah SWT sajalah yang dapat mengetahui seseorang itu ikhlas atau tidak dalam amal shalehnya itu. Meskipun orang tersebut mengaku melakukannya secara ikhlas, itu bukan jaminan ia benar-benar ikhlas. Secara lahir, mungkin seseorang terlihat ikhlas, tapi itu belum tentu.

Ikhlas adalah mengosongkan hati dari semua motivasi dunia dalam amal akhirat. Ia merupakan buah dari kesempurnaan tauhid, yaitu meninggalkan Allah SWT. Dengan keikhlasan yang murni, seorang Muslim dapat melepaskan dirinya dari segala bentuk perbudakan, melepaskan diri dari segala penyembahan kepada selain Allah, seperti kepada tahta, wanita, jabatan, harta, atau nafsu.

Seorang Muslim yang ikhlas, tunduk dan taat terhadap seruan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman, "Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri." (QS. Al-An'am [6] : 162-163).

Menjadi Muslim yang ikhlas adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada jalan lain bagi kita agar semua amal shaleh berbuah pahala, selain ikhlas. Wallahu a'lam bishshawwab. [Swadaya-1106]

kotasantri.com

0 comments:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More