14 March, 2007

Beradab dan berbaik sangkalah Kepada Allah !!

Oleh : Abu Hannan Sabil Arrasyad

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak akan ada yang memberi petunjuk kepadanya.

Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya.
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah. Setiap bid'ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan ada di neraka.

Musibah yang terjadi di tengah bangsa kita yang mayoritas kaum muslimin terjadi berulang-ulang, semenjak Tsunami di Aceh sampai gempa di Sumatera Barat, kita sebagai kaum muslimin wajib berkeyakinan bahwa semua kebaikan dan kejelekan, manfa'at dan mudharat (kejadian yang manis maupun yang pahit) semuanya dari takdir dan ketentuan Allah Ta'ala, tidak ada yang mampu mencegahnya, menyimpangkannya atau menjauhkannya.
Seseorang tidak akan tertimpa suatu musibah melainkan apa yang telah ditakdirkan. Meskipun seluruh makhluk berusaha keras untuk menolong orang tersebut, akan tetapi Allah menakdirkan untuk tertimpa musibah maka usaha tersebut tidak berhasil. Demikian juga meskipun seluruh makhluk berusaha untuk mencelakakan dirinya akan tetapi orang tersebut tidak ditakdirkan celaka, maka usaha tersebut tidak akan berhasil, hal ini sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas radiallahu'anhu

"Ketahuilah, bahwa seseungguhnya seandainya bersatu umat manusia untuk memberikan manfa'at padamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang ditakdirkan Allah kepadamu, dan seandainya mereka bersatu untukmencelakakan kamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan dapat mencelakakan kamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah takdirkan kepadamu. Telah diangkat pena (untuk menulis takdir) dan telah kering lembaran-lembaran itu (HR. Turmudzi dll dan dikatakan hasan shahih)
Kemudian Allah Ta’ala juga berfirman :

“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya.."(Qs Yuunus:107)

Namun ditengah-tengah musibah yang banyak terjadi muncul suatu fenomena yang ini merupakan bagian dari musibah tersebut, yang hal ini telah terjadi berulang kali dan menyebar di kalangan kaum muslimin, dahulu ketika kita melihat alam menunjukkan kekuasaan Allah kita semua mengaguminya dan memuji Allah atas kekuasaan dan kebesarannya. Namun saat ini, hal-hal demikian selalu dikaitkan dengan Allah, diantaranya misalnya bentuk gelombang tsunami yang membentuk lafadz Allah, kemudian pula, bentuk ledakan Api yang muncul dari lumpur Lapindo dengan bentuk lafadz Allah, kemudian awan dengan bentuk lafadz Allah yang keluar sebelum angin puting beliung di Jakarta dan setelah Gempa bumi di Sumatera Barat yang membuat seakan-akan penyandaran bencana itu kepada Allah secara terpisah.

Memang segala sesuatu yang terjadi kebaikan maupun keburukan semuanya adalah takdir dari Allah, namun ketika seorang muslim memahami aqidah yang benar dan adab yang benar maka memposisikan diri sebagai seorang hamba maka mereka harus memahami bahwa tidak diperkenankan menyadarkan kepada Allah apa-apa yang berkesan negatif bila diucapkan secara terpisah. Tidak boleh dikatakan, misalnya: Allahlah penyebab semua bencana ini, atau mengait-ngaitkan bencana kepada Allah seperti fenomena yang terjadi belakangan ini, ada kesan ketika musibah terjadi langsung dikaitkan kepada Allah secara terpisah dengan fenomena alam yang terjadi, walaupun kita tahu setiap yang terjadi memang adalah ciptaan dari Allah.

"Sungguh Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau ya Allah, kebaikan seluruhnya di kedua tangan-Mu dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu“ (Hr Ahmad, Muslim dan lainnya)

Inilah adab yang seharusnya diambil seorang muslim ketika menemukan fenomena seperti ini. Adab yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim `alaihis salam dalam sebuat ayat Allah ceritakan tentang keadaan beliau, beliau `alahissalam berkata

"dan apabila aku sakit. Dialah Yang menyembuhkan aku, (Qs Asy-Syu'ara:80)

lihatlah dalam firman Allah tersebut, Nabi Ibrahim ‚`alaihissalam menyandarkan sakit kepada dirinya sendiri dan menyandarkan kesembuhan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Meskipun keduanya datangnya dari Allah Yang Maha Mulia. Inilah adab yang harus diambil oleh seorang hamba yang beriman dan bertaqwa kepada Allah.
Begitu juga dengan Nabi Khidir 'alaihissalam menyandarkan kehendak untuk merusak
perahu kepada dirinya sendiri, seperti dikisahkan dalam Al-Qur'an

"Adapun kapal itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku hendak merusakkan kapal itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap tiap kapal. (Qs Al-Kahfi:79)

Adapun ketika mengerjakan kebaikan dan rahmat, beliau `alaihissalam menyandarkan kehendaknya kepada Allah, Allah Ta'ala berfirman

"..maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu.."(Qs Al-Kahfi:82)

disini juga letak keikhlasan dan kesadaran bahwa segala sesuatu kebaikan yang diperbuat adalah hasil rahmat dan pertolongan Allah kepada hamba-hambanya. Adapun kita harus mengakui bahwa memang manusia tempatnya khilaf dan salah.

“Setiap anak Adam (manusia) mempunyai salah (dosa), dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” [HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: "Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang orang yang mempersekutukan (Allah)." (Qs Ar-Rum:41-42)
Maka inilah tempatnya musibah tersebut, bahwa manusia membuat kerusakan di muka bumi dan kerusakan yang terbesar adalah perilaku kesyirikan yang merajalela di tengah-tengah kaum muslimin, kemudian kejahilan terhadap aqidah yang akhirnya membuat mereka suul adab kepada Allah Ta’ala tanpa disadari kemudian berburuk sangka kepada Allah, mengada-adakan dan mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa ilmu. membuat kebid’ahan atas nama Allah Ta’ala.

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (Qs Al A’raaf: 33).

Lihatlah bagaimana Allah memposisikan urutan dari dosa-dosa dari kepada yang tinggi, yang membuat atau mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa ilmu adalah suatu perkara yang paling besar sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Imam Ibnu Qayyim dalam kitabnya Madarijus salikin.

maka dengan saatnya untuk kembali kepada dien ini secara benar kepada manhaj salafusshalih Nabi dan para sahabatnya,dengan menjauhi kesyirikan, berusaha menuntut ilmu syar’i dan mengamalkannya, mengenal tauhid dan aqidah dengan benar dan mendakwahkannya, beradab kepada Allah. Dan berbaik sangka kepada Allah Ta’ala bahwa setiap musibah dan ujian yang terjadi adalah sarana peningkatan ketaqwaan kita kepada Allah Ta’ala juga menjadi penghapus bagi dosa-dosa kita. Sebagaimana dalam hadist qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Allah Ta’ala berfirman :

Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu terhadap diriKu [HR. Bukhari dan Muslim)

Sehingga Allah tidak menimpakan musibah yang lebih besar lagi akibat kesyirikan, dosa, suul adab serta buruk sangka kita kepada Allah.

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [Asy-Syuura : 30]
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi... [Qs Al-A’raaf ; 96]


Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, saya memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.

Wallahu A’lam

sumber: http://www.abu-hanan.blogspot.com

0 comments:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More